Minggu, 02 September 2018

Cerita Dewasa Saat Penisku Dikocok Oleh Polwan Seksi


LASKARQQAku tak mengenakan helm karena aku terburu-buru pergi ke tempat pacarku. Apesnya, aku dihadang sama polisi. Polisi itu naik mobil, tiba-tiba dgn cepatnya memotong jalanku, aku kaget hampir saja kutabrak mobil polisi itu. Aku rem mendadak motorku, karena terjadi hentakkan, jadi tubuhku hilang keseimbangan lalu aku terjatuh dari motorku. Aku terguling-guling di jalan. Tp syukurlah aku tdk apa-apa hanya lecet biasa.

Pada saat aku masih dlm keadaan telungkup, aku lihat pintu mobil polisi itu terbuka. Tp anehnya, aku sepertinya kok melihat kaki seorang wanita. Kakinya yg putih bersih dan indah itu kini berada tepat di wajahku, kutegakkan kepalaku. Betapa terkejutnya aku, mataku seperti melihat “hutan belantara” di antara kedua kaki yg jenjang itu. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata dia seorang polwan, dan di dada kirinya tertulis namanya, ANA. Dia cantik sekali dan ohh.., body-nya mantap sekali. Aku jadi bengong, dan, “Plaaakkk..!” sebuah tamparan mendarat di pipi kananku.

“Heiii, apa yg Kamu lihat..? Ayo sekarang serahkan surat-suratmu mu cepaattt..!” bentaknya.

Aku jadi kaget dan segera kuambil dompet dari saku celanaku, lalu kuambil SIM dan STNK, lalu kuserahkan padanya. Sementara dia melihat suratku, aku pandangi lagi dia ohh.., betapa cantik polwan ini.

Aku perkirakan umurnya paling masih sekitar 25 tahun. Samar-samar di dlm mobil ada polisi cewek satu lagi, dia seumur denganya tetapi pangkatnya lebih rendah, kalau tdk salah sersan dua. Kakinya putih tetapi tdk semulus polwan yg tadi. Lalu tanpa kusadari, Letnan Ana mengambil sesuatu dari dlm mobil, dia berjalan menuju hidung mobil, lalu dia membungkukkan badannya untuk menulis sesuatu. Pada posisi nungging, aku lihat lagi body-nya yg waaaooowwww selangit deh… Tanpa kusadari, “tititku” mengeras perlahan. Setelah itu dia tegakkan badannya, terus berkata,

“Eee.. saudara Indra, Anda Kami tilang karena Anda tdk memakai helm. Sidang akan dilaksanakan besok lusa. Jangan lupa Anda harus hadir di persidangan besok. Oke..?”
“Tp Bu, besok Sy tdk bisa hadir, soalnya pada hari itu Sy harus mengantar pacar yg akan diwisuda. Jadi Sy minta tolong sama Ibu, bagaimana dech baiknya agar persoalan ini selesai..?” Lalu dia bilang,
“Do you have some money..?”
“Aduh, maaf sekali Bu, Sy sama sekali tdk membawa uang sepeser pun.” jawabku.
“Baiklah, kalau begitu SIM-mu Aku tahan dulu, tp nanti malam Kamu harus pergi ke rumah Sy. Dan ingat..! Kamu harus datang sendiri. Oke..? Ini alamatku. Jangan lupa lho, Aku tunggu jam 7 malam.” Dia pergi sambil mengerdipkan matanya kepadaku.

Aku terkejut, tetapi juga seneng banget, pokoknya seneng dech. Aku sampai di rumahnya sekitar jam 7 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yg sudah terkunci. Tak lama kemudian, Ibu Ana muncul dari dlm dan sudah tahu aku akan datang malam itu.

“Ayo Ndra.., masuk. Aku sudah lama nunggu lho, sampai basah pantatku duduk terus dari tadi..” sapanya.
“Aaahhhh.. Ibu bisa aja…” jawabku.
“Maaf.., pintunya sudah digembok, soalnya Aku tinggal sendiri, jadi harus hati-hati.” sambutnya.
“Oh.., jadi Ibu belum menikah too..? Sayang lho..! Wanita secantik Ibu ini belum menikah..” kataku merayu.
“Aaaa.. Kamu ngerayu ya..?” tanyanya.
“Enggak kok Bu, Sy berkata begitu karena memang kenyataannya begitu. Coba Ibu pikir, Ibu sudah mapan hidupnya, cantik luar-dlm, dan sebagainya dech…” jelasku.

“Ehh.. Aku cantik luar-dalam, apa maksud Kamu..?” tanyanya lagi.
“Haduuhh.., gimana ya, malu Aku jadinya..?” jawabku.
“Kamu nggak perlu malu-malu mengatakannya, Kamu ingin SIM Kamu kembali nggak..?” ancamnya.
”Eee.. sekarang gini aja, Kamu udah punya pacar khan..? Sekarang Sy tanya, kenapa Kamu memilih dia jadi pacar Kamu..?” tanyanya lagi.

“Eee.. jujur aja Bu, dia itu orangnya cantik, baik, setia dan cinta sama Sy, that?s all..”
“Kalau seumpama Kamu disuruh milih antara Sy dan pacar Kamu, Kamu pilih Sy atau pacar Kamu sekarang..? Bandingkan aja dari segi fisik, Oke.. Sy atau Dia..?” tanyanya memojokkanku.
“Eeee… Anu.. anu… eee..,” aku dibuat bingung tdk karuan.
“Ayo.. jawab aja..! Kalau Kamu tdk jawab, SIM Kamu tdk kukembalikan lho..!” ancamnya lagi.
“Waduhhh.., gimana ya..? Ehmmm.., baiklah, Sy akan jawab sejujurnya. Sy tetap akan memilih pacar Sy sekarang.” jawabku.

“Wow.., kalau begitu dia lebih cantik dan semok dong dari Sy..?” jawabnya lirih.
“Eeee.. bukan begitu Bu, Sy memilih pacar Sy walaupun Dia sebetulnya kalah cantik dari Ibu, dan segalanya dech..!” jawabku.
“Ahh… yg benar, jadi Aku lebih cantik dan semok dari Dia..?” tanyanya lagi.
“Jujur saja.., ya.. ya.. ya..” jawabku mantap.
“Ohhh..,Aku jadi tersanjung dan terpikat dgn jawabanmu tadi..,” katanya girang,
“Wah.. jadi lupa Aku, Kamu nonton TV aja dulu di ruang tengah, Aku mau ambil SIM Kamu di kamar.., Oke..?” pintanya.

Lalu aku menuju ke ruang tengah, kuputar TV. Secara tdk sengaja, aku melihat tumpukan VCD. Aku tertarik, lalu kulihat tumpukan VCD itu, lalu, ohhh astaga, ternyata tumpukan VCD itu semuanya film “XXX”, aku terkejut sekali melihat tumpukan film “XXX” itu. Sebelum aku melihat satu-persatu, terdengar bunyi pintu dibuka. Lalu, ohhh, aku terkejut lagi, Ibu Ana keluar dari kamarnya hanya menggenakan daster pink transparan, di balik dasternya itu, bentuk buah dadanya terlihat jelas, terlebih lagi putting susunya yg menyembul bak gunung Semeru. Begitu ia keluar, mataku nyaris copot karena melotot, melihat tubuh Ibu Ana. Dia membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas.

“Kenapa..? Ayo duduk dulu..! Ini SIM Kamu.. Aku kembalikan..” katanya.

Wajahku memerah karena malu, karena Ibu Ana tersenyum saat pandanganku terarah ke buah dadanya.

“SIM Kamu, Aku kembalikan, tp Kamu harus menolong Sy..!” Ibu Ana merapatkan duduknya di karpet ke tubuhku, aku jadi panas dingin dibuatnya.
“Ndraa..?” tegurnya ditengah-tengah keheninganku.
“Ada apa Bu..?” tubuhku bergetar ketika tangan Ibu Ana merangkulku, sementara tangannya yg lain mengusap-usap daerah “XXX”-ku.
“Tolong Ibu Ana ya..? Dan janji, Kamu harus janji untuk merahasiakan hal ini, kalau tdk aku DOR Kamu..!” pintanya manja.
“Tp… Sy.., anu.., eee..”
“Kenapa..? Ooooo.. Kamu takut sama pacar Kamu ya..?” katanya manja.

Wajahku langsung saja merah mendengar perkataan Ibu Ana,

“Iya Bu…” kataku lagi.
“Sekarang Kamu pilih disidang atau pacar Kamu..?” ancamnya.

Dia kemudian duduk di pangkuanku. Bibir kami berdua kemudian saling berpagutan. Ibu Ana yg agresif karena haus akan kehangatan dan aku yg menurut saja, langsung bereaksi ketika tubuh hangat Ibu Ana menekan ke dadaku. Aku bisa merasakan puting susu Ibu Ana yg mengeras. Lidah Ibu Ana menjelajahi mulutku, mencari lidahku untuk kemudian saling berpagutan bagai ular. Setelah puas, Ibu Ana kemudian berdiri di depanku yg dari tadi masih melongo, karena tdk percaya pada apa yg sedang terjadi. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yg polos tanpa sehelai bnenangpun seakan akan menantang untuk diberi kehangatan olehku.

“Lepaskan pakaiannmu Ndraaa..!”

Ibu Ana berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.

“Ayooo.. cepat dong..! Aku udah nggak tahan nich.. ohhh..” Ibu Ana mendesah tdk sabar.

Aku kemudian berlutut di sampingnya. Aku bingung dan tdk tahu apa yg harus dilakukan, karena malu.

“Ndraaaa.. letakkan tanganmu di dadaku, ayo ohhh..!” pintanya lagi.

Dgn gemetar aku meletakkan tanganku di dada Ibu Ana yg turun naik. Tanganku kemudian dibimbing untuk meremas-remas buah dada Ibu Ana yg super montok itu.

“Oohhh… enakk.., ohhh… remas pelan- pelan, rasakan putingnya menegang..” desahnya.

Dgn semangat aku melakukan apa yg dia katakan. Lama-lama aku jadi tdk tahan, lalu,

“Ibu.. boleh Sy hisap susu Ibu..?” Ibu Ana tersenyum mendengar pertanyaanku, dia berkata sambil menunduk,
“Boleh Sayang… lakukan apa yg Kamu suka..” Tubuh Ana menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulutku yg sekarang mulai garang itu di susunya.
“Oohhh… jilat terus Ndraaaa..! Ohhh…” desah Ibu Ana sambil tangannya mendekap erat kepalaku ke buah dadanya.

Aku lama-lama semakin buas menjilati puting buah dadanya, mulutnya tanpa kusadari menimbulkan bunyi yg nyaring. Hisapanku semakin keras, bahkan tanpa kusadari, aku menggigit-gigit ringan putingnya yg ohhh.

“Emmm… nakal Kamu…” Ibu Ana tersenyum merasakan tingkahku yg semakin “Jozzz” itu. Lalu aku duduk di antara kedua kaki Ibu Ana yg telah terbuka lebar, sepertinya sudah siap tempur.

Ibu Ana kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangya.

“Ayo, sekarang Kamu rasakan meqi ku..!” ia membimbing telunjukku memasuki liang senggamanya.
“Hangat, lembab, sempit sekali Bu…” kataku sambil mengucek kedalaman lubang kemaluanya.
“Sekarang jilat ‘k0ntol kecil’-ku..!” katanya.

Perlahan-lahan lidahku mulai menjilat klitoris yg mulai menyembul tinggi sekali itu.

“Terus.. ooohhh.. ya.. jilat.. jilat. Terus.. ohhh…” Ibu Ana menggerinjal-gerinjal keenakan ketika klitorisnya dijilat oleh mulutku yg mulai asyik dgn tugasnya.
“Gimana.., enak ya Bu..?” aku tersenyum sambil terus menjilat.
“Oohh.. Ndraaaa…” tubuh Ibu Ana telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.

Lidahku semakin berani mempermainkan klitoris Ibu Ana yg makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yg semakin memburu pertanda pertahanannya akan segera jebol. Dan aku akan unggul 1-0, ee… emangnya main bola. Lalu,

“Oooaaahhh… Ndraaaa..!” Tangan Ibu Ana mencengkeram pundakku yg kokoh bagaikan tembok raksasa di China, sementara tubuhnya menegang dan otot- otot kewanitaannya mulai menegang, dan muncratlah ‘lahar’Ibu Ana di mulutku.

Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yg telah kuberikan.

Hmmm… Kamu sungguh lihai Ndraaaa… Sekarang coba gantian Kamu yg berbaring…” katanya. Aku menurut saja. Batang kejantananku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Ibu Ana yg mulai mempermainkan senjata keperkasaanku.

“Wah.. wahh… besar sekali. Oh my god… Ohhh…” tangan Ibu Ana segera mengusap-usap batang keperkasaanku yg telah mengeras tersebut.

Segera saja benda besar dan panjang itu mulai berdenyut-denyut dan dimasukkan ke mulut Ibu Ana. Dia segera menjilati batang kemaluanku itu dgn penuh semangat. Kepala kejantananku itu dihisapnya keras-keras hingga aku jadi merintih keenakan.

“Ahhh… enakkeee.. rekkk..!” aku tanpa sadar menyodokkan pinggulku untuk semakin menekan senjata keperkasaanku agar makin ke dlm mulut Ibu Ana yg telah penuh oleh batang kejantananku.

Gerakanku makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Ibu Ana.

“Ooohhh Bu.. oohhh.. mulut Ibu memang sakti.. ohhh.. I?m coming… ohhh…” Muncratlah laharku di dlm mulut Ibu Ana yg segera menjilati cairan itu hingga tuntas.. tas.. tas.. plass.
“Hmmmm… agak asin rasanya Ndra punyamu.., tp enak kok…” Ibu Ana masih tetap menjilati kemaluanku yg masih tegak bagaikan tugu Monas di Jakarta, menara Piza di Italy, menara Eiffel di Paris.
“Sebentar ya.., Aku mau minum dulu..” katanya setelah selesai menjilati batang kejantananku.

Ketika Ibu Ana sedang membelakangiku sambil menenggak air putih dari kulkas. Aku melihat body yg wuih dan itu ohhh, pantat yg bulat. Aku memang suka pantat yg bulat dan menantang. Aku tdk tahan cuma melihat dari jauh, lalu aku berdiri dan berjalan menghampirinya, lalu mendekapnya dari belakang.

“Ndraaaa.. jangan nakal dong, biar Ibu minum dulu..!” katanya manja.
“Aku tdk tahan melihat pantat ibu yg menantang itu.” kataku tak sabaran.
“Kamu suka pantatku, kalau gitu Kamu tentu mau kalau nanti pantatku mendapat giliran untuk Kamu obok-obok, bagaimana Ndra..? Mau ngobok- ngobok pantat Ibu..?” tanyanya. Aku terima tantangannya.
“Ohhh.., memang benar- benar mantaapppp…” aku berkata sambil mengelus-elus pantat Ibu Ana.

Lalu aku jongkok agar dapat jelas melihat, kusentuh lembut pantat itu dgn tanganku. Terus kucium, kuelus lagi, kucium lagi terus kujilat, lalu kubuka belahan pantat itu. Ohhh.., terhampar pemandangan indah dgn bau yg khas, lubang yg sempit, lebih sempit dari yg di depan dan sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu yg lumayan lebat. Lalu kujulurkan jari telunjukku ke lubang yg sempit itu.

Waktu aku coba memasukkan jariku ke lubang itu, terdengar jeritan kecil Ibu Ana.

“Ndra.., jangan keras-keras ya, nanti sakit.. lho…” Lalu aku mulai memasukkan step by step.

Waktu jariku menembus lubang itu sepertinya tanganku mau disedot masuk ke dlm.

“Lubang Ibu nakal juga ya, masa jariku mau dimakan juga..?”
“Akhhh… Kamu nakal dech.., ohhh Ndra.. coba sekarang Kamu jilat ya..?” pintanya.

Lalu kutarik jariku dari dlm lubang itu, lalu aku mulai menjilati lubang itu ehhmm.., lumayan juga rasanya, asin-asin gurih. Sementara itu, Ibu Ana terdengar merintih keenakan. Lama-lama aku tdk sabar, dan terus kuberdiri dan tanpa basa-basi, aku langsung membalikkan badannya. Terus kulahap gundukan-gundukan daging di dada Ibu Ana dgn nikmat. Sementara itu, Ibu Ana mulai mendesah-desah dan menggelinjang. Kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam. Goyangan- goyangan lidahku yg terus menjilati puting susu Ibu Ana yg tinggi dan lancip begitu bertubi-tubi tanpa henti. Ibu Ana menggerinjal-gerinjal dgn keras.

“Aaaaggghhhh… oooohhh… ooooohhh…” desahan- desahan kenikmatan semakin banyak bermunculan dari mulut Ibu Ana.

Geliat- geliatan tubuhnya semakin menjadi-jadi karena merasa sensasi yg luar biasa akibat sentuhan-sentuhan mulut dan lidahku pada ujung syaraf sensitif di buah dadanya. Urat-urat membiru pun mulai menghiasi dgn jelas seluruh permukaan buah dada yg super montok itu. Masih dgn mulutku yg tetap berpetualang di dada Ibu Ana yg juga masih menggelinjang, aku membopong Ibu Ana ke kamar. Kujatuhkan tubuh Ibu Ana di atas kasur spring bed yg sangat empuk.

Saking keras jatuhnya, tubuhnya yg aduhai itu sempat terlontar-lontar sedikit sebelum akhirnya tergolek pasrah di atas ranjang itu. Setelah itu, Ibu Ana tetelentang di kasur dgn kaki-kakinya yg jenjang terjulur ke lantai. Tubuh bugilnya yg putih dan mulus beserta buah dada yg montok dgn puting susu nan tinggi yg teronggok kokoh di dadanya, memang sebuah pemandangan yg amat menawan hati. Lalu aku berlutut di lantai menghadap selangkangan Ibu Ana. Kurenggangkan kedua kakinya yg menjejak di lantai.

Dgn begitu aku dapat memandang langsung ke arah selangkangannya itu. Bulu-bulu kemaluan yg tumbuh di padang rumput tipis yg menghiasi wilayah sensitif itu begitu menggelora nafsu birahiku. Aromanya yg segar dan harum membuat nafsuku itu kian meninggi. Kudekatkan mulutku ke bibir meqinya dan kujulurkan lidahku untuk mencicipi lezatnya lubang itu. Tubuh Ibu Ana terlonjak keras ketika kucucukkan lidahku ke dlm liang senggamanya. Kukorek-korek seluruh permukaan lorong yg gelap itu. Begitu hebat rangsangan yg kubuat pada dinding lorong kenikmatan tersebut, membuat air bah segera datang membanjirinya.

“Aaaagghhhhhh… oooooohhh… aaahhh…” terdengar rintihan Ibu Ana dari mulutnya yg megap-megap setengah membuka.

Kemudian aku berdiri. Dgn tangan bertumpu ke atas kasur, kucoba mengarahkan ujung K0ntolku ke lubang meqi yg lumayan sempit yg tampak licin dan basah milik Ibu Ana. Berhasil. Perlahan-lahan kuhujamkan batang kemaluanku ke dlm liang senggama itu. Tubuh Ibu Ana berkejat- kejat dibuatnya merasakan nikmat penetrasi yg sedang kulakukan saat ini.

“Oooohhhh… uuuuccchhh…” tak ayal jeritan- jeritan mengalir dari mulutnya.

Akhirnya batang keperkasaanku amblas semua ke dlm liang gelap yg berdenyut-denyut milik Ibu Ana diiringi dgn jeritannya. Kenikmatan ini kian bertambah menjadi- jadi setelah aku melakukan penetrasi lebih dlm dan intensif lagi. Gerakan memompa dari batang kejantananku di dlm kemaluan Ibu Ana semakin kupercepat.

Terdengar suara kecipak-kecipak dan lenguhan kami berdua karena terlalu asyiknya kami bersenggama. Seiring dgn tangan yg kembali meremas- remas perbukitan indah yg menjulang tinggi di dada Ibu Ana, batang kejantananku terus melakukan serangan- serangan yg tanpa henti di dlm lubang senggamanya yg bertambah kencang denyutan-denyutannya. Meqi memerah yg terus berdenyut-denyut dan amat licin akibat begitu membanjirnya cairan- cairan kenikmatan yg keluar dari dalamnya, terasa menjepit bnatang kejantananku.

Demikian sempitnya ruang gerak K0ntolku di dlm lorong gelap itu, menjadikan gesekan-gesekan yg terjadi begitu mengasyikkan. Ini merupakan sensasi sendiri bagiku yg merasakan batang keperkasaanku seperti merasa diurut-urut oleh seluruh permukaan dinding meqinya. Mulutku pun tak henti-hentinya menyuarakan desahan-desahan kenikmatan tanpa bisa dihalangi lagi.

“Oouuugghhhhh… Ndraaaa… mmmpphhhh…” Ibu Ana mengerang-ngerang tdk karuan, sementara tubuhnya juga melonjak-lonjak dgn keras.

Sekuat tenaga kuhujam-hujam K0ntolku dgn lebih ganas lagi ke dlm liang senggamanya. Rasanya hampir habis tenaga dan nafasku dibuatnya. Tetapi nafsu birahi yg begitu menggelora tampaknya membuatku lupa pada kelelahanku itu. Ini dibuktikan dgn sodokan kejantananku yg berusaha menusuk sedalam-dalamnya. Bahkan berkali-kali ujung batang kejantananku sampai menyentuh pangkal liang tersebut, membuat Ibu Ana menjerit keenakan.

“Ndraaaa… Ndraaaa… Aku… mau… keluar…” Ibu Ana melenguh kencang.

Ia merasakan sudah tdk bisa menahan klimaksnya lagi. Akan tetapi, aku belum merasakan klimaks sedikit pun. Langsung kutambah kecepatan genjotan-genjotan batang kejantananku di dlm liang senggamanya. Begitu buasnya sodokan-sodokanku itu, membuat tubuh Ibu Ana bergoyang-goyang hebat, dia merintih… merintih… dan merintih.

Akhirnya saat yg diharapkan itu tercapai. Aku melenguh panjang merasakan spermaku muncrat, menyusul Ibu Ana yg sudah terlebih dahulu memperoleh orgasmenya. Begitu nikmatnya orgasme yg kurasakan itu sehingga membuat laharku bagaikan air bah menerjang masuk ke dlm liang senggama Ibu Ana. Kami berdua mengejang kencang saat titik-titik puncak itu tercapai. Tp kenapa batang kejantananku tdk mau istirahat, dan masih terlihat perkasa. Dgn segera aku berlutut di atas ranjang. Kuminta Ibu Ana untuk berlutut juga membelakangiku dgn tangan bertumpu di kasur, jadi dlm posisi doggy style.

Kemudian Ana kudorong sedikit ke depan, sehingga pantatnya agak naik ke atas, yg lebih memudahkan batang kejantananku untuk melakukan penetrasi ke dlm lubang senggamanya. Setelah itu langsung kusodok kemaluan yg sekarang sudah terlihat agak merekah itu dgn batang keperkasaanku dari belakang. Tubuh Ibu Ana terhenyak hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya sodokanku itu, sementara mulutnya menjerit keenakan. Dlm sekejap, senjata-ku itu seluruhnya ditelan oleh meqi itu dan langsung menjepitnya.

Jepitan meqi Ibu Ana yg berdenyut-denyut menambah gairah birahiku yg memang sudah menggelora. Dgn cepat, kutarik kejantananku sampai hampir keluar dari dlm liang senggamanya, lalu kutusukkan kembali dgn cepat. Kemudian kutarik dan kusodok lagi, seterusnya berulang- ulang tanpa henti. Doronganku yg keras ditambah dgn sensasi kenikmatan yg luar biasa membuat Ibu Ana beberapa kali nyaris terjerembab.

Namun itu tdk menjadi masalah sama sekali. Bahkan sebaliknya, membuat permainan kami berdua menjadi kian panas. Lalu,

“Ooocchh… uh… uh… uh…” nafasku terengah-engah.

Kurasakan sekujur tubuhku mulai kehabisan tenaga. Tenagaku sudah begitu terkuras, tetapi aku belum mau berputus asa. Kucoba mengeluarkan sisa-sisa tenaga yg masih ada semampuku. Dgn sedikit mengejang, kugenjot batang kejantananku kembali ke dlm luabng kenikmatannya sekuat-kuatnya. Ibu Ana pun tdk mau kalah, dia maju-mundurkan tubuhnya dgn ganasnya.

Akhirnya, Ibu Ana melenguh panjang, muncratlah lahar-nya, disusul beberapa detik kemudian oleh kemaluanku. Lalu secepat kilat kukeluarkan K0ntolku dari dlm lubang kenikmatan Ibu Ana dan langsung jatuh terkapar di kasur. Lalu, Ibu Ana langsung meraih batang kejantananku itu dan dimasukkan ke dlm mulutnya. Ibu Ana mengocok k0ntolku itu di dlm mulutnya yg memang agak kecil.

Namun Ibu Ana berhasil melumat batang keperkasaanku dgn nikmatnya. Gesekan-gesekan yg terjadi antara kulit kemaluanku yg sensitif dgn mulut Ibu Ana yg basah dan licin ditambah dgn gigitan-gigitan kecil yg dilakukan oleh giginya yg putih karena pakai “Smile-Up Man”, membuat aku tdk dapat menahan diri lagi. Muncratan-muncratan lahar kenikmatan yg keluar begitu banyaknya dari batang keperkasaanku langsung ditelan seluruhnya, hampir tanpa sisa oleh Ibu Ana. Sebagian meleleh keluar dari mulutnya dan jatuh membasahi kasur. Belum puas sampai disitu, ia masih menjilati sekujur batang kejantananku sampai bersih total seperti sediakala.

Bukan main! Lalu kami berdua tergeltak di atas tempat tidur dgn tubuh telanjang yg dibasahi oleh keringat dan lahar kami. Kemudian aku tertidur. Tiba-tiba,

“Aaauuuwww..,” kepalaku sakit sekali, terus aku terbangun tetapi samar-samar aku melihat tiga orang sudah berada di sekelilingku. Semuanya memakai seragam putih-putih. Satu cowok dan dua cewek. Setelah itu penglihatanku mulai jelas, dan benar dugaanku, aku sekarang berada di rumah sakit. Tp bagaimana bisa..? Terus apa yg kulakukan tadi itu gimana..?

Sabtu, 01 September 2018

Cerita Dewasa Ngentot Dengan Dinar Sang Pujaan Hati di Desa


LASKARQQPanggil saja aku Dinar, umurku 18 tahun aku duduk dibangku SMA. Aku termasuk siswi yang rapi dan mempesona. Aku berkulit putih dan berambut panjang. Kalau jaman sekarang bisa disebut cabe-cabean. Aku terlahir dari keluargayang biasa saja, ibuku membuka warung kelontong dirumah. Sedangkan ayahku bekerja dipabrik dan hanya seminggu sekali pulang kerumah. Aku memiliki kakak yang sudah berkeluarga. Sekarang aku hanya dirumah berdua saja dengan ibuku. Kegiatan sehari-hariku setelah pulang sekolah yaitu membantu ibu berjualan. Orangtuaku menginginkan aku menjadi orang yang sukses.

Aku harapan satu-satunya karena kakakku juga seorang ibu rumah tangga biasa dengan lulusan SMA. Ayahku bekerja banting tulang demi aku karena sebentar lagi aku lulus dari SMA dan aku akan meneuskan pendidikanku ke jengjang yang lebih tinggi. Kebetulan aku siswa berprestasi di sekolah jadi setiap ada tawaran masuk ke perguruan tinggi melalui tes aku selalu lolos dalam ujian tersebut.

Namun apalah daya semua harus dengan uang. Aku harus bersabar dan gak boleh memaksa kedua orangtuaku. Kalau memang gak bisa berkuliah kerjapun aku gak masalah. Toh dapat menghasilkan uang bisa membantu kedua orangtua. Namun seiring berjalanya waktu kedua orangtuaku memiliki tabungan khusus untuk aku masuk ke perguruan tinggi.

Karena aku termasuk siswa berprestasi aku hanya mengeluarkan biaya 50% saja. Gak banyak yang dibayarkan aku termasuk golongan orang yang beruntung. Aku diterima di perguruang tinggi negeri yang sangat diidam-idamkan semua temanku. Orangtuaku sangat bangga kepadaku. Namun letak kampus dengan rumah lumayan sangat jauh.

Kira-kira perjalanan satu jam belum lagi jika jalan macet. Ibuku menghendaki aku untuk mencari kost di dekat kampus. Aku masih berfikir panjang lagi karena mungkin biaya tambah banyak. Tapi mau bagaimana lagi daripada waktu habis dijalan dan selalu terlambat. Aku harus focus dengan Ujian Nasional terlebih dahulu.

4 hari aku harus menghadapi ujian penentu kelulusanku. Setiap hari aku belajar memahami semua materi pelajaran. Aku sudah dapat kampus yang aku inginkan dan aku harus belajar sungguh2-sungguh untuk menghadapi ujian nasional ini. Waktu berjalan sangat cepat hari demi hari aku lalui ujian nasionalpun aku sudah melewati dengan sangat lancar.

4 hari sudah aku melaksanakan ujian tertulis aku percaya bahwa aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Setelah aku menjalani ujian nasional tersebut aku bersantai sejenak sambil menunggu kelulusan. Sambil mengurus segala keperluan untuk berkuliah nanti. Aku dibelikan sepeda motor oleh ibuku walaupun itu bekas aku senang sekali.

Orangtuaku mampu memberikan apa saja yang aku inginkan. Dan aku harus membalas semua dengan belajar bersungguh-sungguh. Pengumuman kelulusan itu akhirnya datang juga. Acara wasana warsa dan kelulusan dengan mengundang kedua orangtua. Dalam hatiku sangat berdebar-debar menunggu hasil itu.

Ayah dan ibuku berangkat ke acara tersebut, mereka duduk di kursi tengah sesuai nama yang sudah tertera. Acara sudah dimulai dengan berbagai macam sambutan dan pentas seni. Pada akhirnya acara yang ditunggu-tunggu datang juga. Pengumuman kelulusan dan nilai terbaik saat itu. Ayahku mengambil amplopku dan dia membuka bahwa aku LULUS.

Ayah tampak bahagia sekali melihat hasil itu. Belum cukup itu saja ternyata aku mendapat nilai tertinggi Ujian Nasional itu. Aku dan kedua orangtuaku maju ke depan. Mereka menangis bahagia ketika itu dan memelukku dengan sangat erat. Sambil diputarkan video kegiatan sehari-hari orangtuaku. Aku gak menyangka sekolah bisa memutar video itu.

Disitu menjelaskan bahwa orang yang berhasil gak diukur dengan materi. Orang yang pas-pasan dan sederhana seperti aku pun bisa meraih keberhasilan. Aku mendapatkan ucapan selamat dari banyak temanku dan orangtuanya. Bahkan aku mendapatkan uang atas prestasiku. Semua menjadi kebanggan tersendiri dan semoga aku bisa mempertahankannya.

Acara selessai dan aku pulang dengan kedua orangtuaku,

“Ayah bangga sama kamu Tari, kamu membuktikan bahwa kerja keras bapak selama ini gak sia-sia…”

“Terimakasih pak, sudah banyak mengusahakan biaya untuk aku sampai aku dapat kuliah…”

“Kamu harus mempertahankannya , gak berprestasi di kampus kelak gak apa-apa yang penting kamu kuliah yang sungguh-sungguh. Diluar sana pergaulan semakin kejam kamu juga harus jaga dirimu. Kenal dengan lawan jenis gak dilarang asal ada batasannya nak…,”

“Iya pak, saya akan menjaga pesan bapak saya juga akan pilih-pilih jika bergaul…”

“Jadilah seperti ini sederhana dan gak banyak tingkah. Pesan ayah jaga dirimu sebagai wanita remaja, jangan asal bergaul. Di kost juga hati-hati menjaga diri hindari semua yang menjerumuskanmu. Intinya semua kembali pada dirimu sendiri…”

“Iya pak tenang saja aku bisa menjaga diri..”

Setiap hari ayah selalu berpesan itu beliau takut aku masuk ke dalam pergaulan bebas. Apalagi aku kost gak pulang ke rumah. Namun aku percaya pada diriku sendiri aku bisa menjaga diri. Hari pertama masuk kuliah pun tiba. Ayah ibu mengantar aku sampai kost membawa barang-barang banyak sekali. ayah ibu gak bisa lama-lama karena mereka harus bekerja.

Aku mencium dan berjabat tangan tampak ibu berlinang air mata. Aku tetap tegar meyakinkan ibuku supaya gak terlalu khawatir dengan ku. Walaupun dalam hatiku juga berat gak pernah pisah dengan kedua orangtuaku. Namun ini semua demi kesuksesanku dan aku ingin membahagiakan mereka. Setelah itu mereka pulang dan aku bersiap-siap untuk ospek.

Segala keperluan sudah disiapkan aku tinggal berangkat ke kampus saja. Sebulan dua bulan aku mendapatkan teman baru mereka sepertiku biasa saja. Mereka juga berasal dari kampung. Selama sebulan penuh aku gak pulang karena kegiatan padat dan hanya berkomunikasi saja dengan orangtuaku.

Ternyata benar apa kata ayah pergaulan disini sangat kejam. Pasangan muda mudi berpacaran bebas diarea taman kampus bahkan ada yang satu kos. Gak terbayangkan apa yang mereka lakukan di dalam kamar kost. Sudah seperti suami istri saja, semoga aku tetap bisa menjaga diriku. Tetapi kenyataan berpihak lain selama satu tahun aku bisa menjaga diriku.

Selebihnya aku sudah masuk ke dalam pergaulan bebas. Setelah aku mengenal seorang lelaki namanya Adit. Dia seorang lelaki yang sudah merenggut keperawananku. Entah aku bisa hanyut dalam situasi karena aku sebelumnya sering melihat video porno. Temanku yang awalnya lugu dia juga berubah drastis.

Menjadi sangat nakal dan sex bebas sudah menjadi makanan sehari-hari. Yang paling parah Adit yang aku kenal adalah seorang pemuda yang beekrja sebagai sopir angkot. Kala itu perkenalan dimulai saat angkot dia sering ngetime di depan kampusku. Dia sopir angkot yang rapid an masih muda. Yang terlintas dipikiranku saat itu aku tertarik dengan Adit.

Aku sengaja gak naik motor hanya untuk menaiki angkot dan bertemu Adit. Setiap pagi aku menunggu angkot itu lewat. Kebetulan aku selalu duduk di depan dekat dengannya. Lama-lama dia hafal juga kalau aku sering naik angkotnya. Kita ngobrol layaknya sudah akrab berteman. Aku menjalin pertemanan sekitar 2 bulan saja.

Aku diantar jemput dengan angkotnya apalagi musim hujan. Gak mungkin aku naik motor pastinya diantar dan dijemput Adit. Dia sangat perhatian sekali denganku, dia juga selalu menolak jika aku ajak menginap di kost. Disini aku lebih agresif aku memegang tangannya aku coba mengelus pundaknya. Tetapi sepetinya dia kurang respon denganku.

Pada suatu hari aku ada kuliah malam sampai jam 11 malam. Dia sudah setia menunggu di depan kampusku,

“Hay Dit, udah lama ya nungguin aku…”

“Enggak kok baru saja satu jam yang lalu, udah selesai belum kuliahmu?”

“Udah nih ayo kita pulang…”

Aku masuk ke dalam angkot dan dia menghidupkan mesin mobilnya. Sepanjang perjalanan kita cerita pengalaman berpacaran. Aku gak banyak cerita karena aku memang belum pernah pacaran. Adit banyak bicara mengenai pacarnya yang dahulu. Adit jujur kalau punya pacar pasti dia melakukan hubungan sex.

Kala itu aku terkejut karena dibalik diamnya Adit ternyata ganas juga. Sudah melakukan hubungan sex dengan banyak wanita,

“Jalan-jalan aja deh aku masih pengen sama kamu malam ini, ucapku dengan lirih”

“Kamu pengen kemana ini udah malam loh dingin pula, ucap Adit…”

“Kan ada kamu yang bisa ngangetin aku…”

Adit tampak tersenyum dengan keganjenanku. Kita melewati jalan dengan penuh keramaian yang semakin malam semakin ramai. Adit mengajakku ke jalan yang sepi menyusuri Desa. jalannya gelap banyak orang berpacaran di pinggir jalan. Kayaknya emang tempat khusus untuk berpacaran. Sepanjang jalan semua pasangan berpelukan menikmati dingin dan kerlap kerlip bintang.

Aku terus mencari tempat yang sunyi. Akhirnya ketemu juga dibawah pohon besar Adit berhenti. Angina berhembus semakin kencang terasa sangat dingin sekali. Adit menutupi semua kaca dan pintu angkotnya,

“Aku jadi inget mantanku , dulu aku bercumbu di bawah pohon ini, ucap Adit”

“kenapa harus inget mantan terus sihdisini kan udah ada aku , aku juga bisa melayanimu malam ini” jawabku dengan sensi

“jangan marah dong Tari aku hanya ingin membuatmu cemburu saja, aku pengen menikmati malamku bersamamu…”

Aku tersipu malu ketika Adit berkata seperti itu. Adit mendekati aku dia duduk disebelahku, tanpa basabasi dia memelukku dengan sangat erat. Dia memandangiku dan mengecup bibirku dengan perlahan. Dia mengulum bibir manisku dengan lembut. Aku membalas ciumannya dengan mengulum bibirnya.

Dingin seketika hilang dan berubah menjadi kehangatan. Dia terus menciumi bibirku , lidahnya terus bergoyang di dalam bibirku. Aku terbawa suasana aku enggan melepaskan ciuman nikmat itu. aku memintanya terus menciumiku. Dia menuruti perkataanku dia terus membuat aku sangat nyaman berada disampingnya.

Tangannya memeluk erat tubuhku dengan perlahan dia melepaskan pelukan itu. Tangannya mengelus tubuhku dan kemudian dia memegang payudaraku. Payudara perawan yang masih kencang dan montok. Tangannya meremas-remas payudaraku hingga aku lemas. Remasan itu sangat nikmat sekali, tangannya diputar-putar di kedua payudaraku. Aku sedikit mendesah karena terlalu nikmat,

“Aaaahhhhhh Dit..nikmat aaaaakkkkhhhhhhhhh….”

Setelah itu dia kembali mencium bibirku dan tangannya terus meremas payudaraku. Aku sudah terbawa suasana horny. Dia membuka bajuku terlihat bra merah yang menutupi payudaraku. Dia tampak beringas melihatnya. Aku sudah gak bisa merasakan dinginnya malam padahal aku gak memakai baju.

Aku sodorkan payudaraku aku sudah gak sabar ingin terus dibelai Adit. Aku dan Adit pindah di belakang. Kita bercumbu di belakang karena didepan sempit. Dibelakang kita bebas bergerak walaupun gak beralaskan apapun terasa nikmat apabila terus berada didekatnya. Aku terbaring dibelakang sudah siap menikmati malam mencekam itu.

Adit mendekati ku dia melepas semua pakaiannya. Dan dibuat alas untuk bercumbu. Aku hanya memakai bra dan celana dalam saja. Kebetulan celana dalam dan bra ku serasi berwarna merah. Membuat Adit semakin horny melihatku seperti itu. Tubuhku yang mulus itu bersiap untuk dinikmati. Tubuh Adit yang kekar membuat aku semakin gak sabar kala itu.

Dia berada diatasku menciumi bibirku. Tampak k0ntolnya semakin membesar tegak mengenai vaginaku terasa sekali. Keras tegak dan sangat kencang ciuman yang nikmat gesekan k0ntol yang sangat tajam aku horny,

“Aaahhhhh Dit aku horny…aaaaaakkkhhhhhhhhh……”

Dia membuka bra ku dan meremas payudaraku dengan keras. Putingnya dia putar-putar dengan jemarinya, tubuhku bergetar saat itu,

“Ooohhhhhh…aaahhhh…terus Dit …aaaaaaakkkhhh ooohhhh…..nikmat Dit …aaaaaaaaaaahhh…”

Dia terus memutar kedua putingku dengan jemarinya. Dan kemudian lidahnya menjulur mendekati putingku , dia jilati putingku secara bergantian. Tubuhku semakin mengejang kuat, Adit tampak sangat nafsu. Birahinya muncul , bibirnya mengulum payudaraku. Seperti layaknya ibu yang menyusui anaknya, tetapi ini beda aku menyusui Adit dengan penuh kegairahan,

“Oohhh Dit …aahhhh…. Dit ….terus…aaakkkhhh lagi….ooohhh aaaaaaaahhhh……”

Adit terus membuat aku nafsu dia pun semakin beringas denganku. Kita sudah gak memakai pakaian dan celana dalam. Didalam angkutan itu kita sudah telanjang, tubuhnya berada diatasku. Dia terus menciumi tubuhku hingga bergetar seluruh tubuhku,

“Oooohhhhhhhhh…aaaahhhhh……..ooohhhhh………”

Dia kemudian menciumi vaginaku yang masih perawan itu. Rambut kemaluanku yang belum banyak tumbuh itu membuat Adit gemas. Vaginaku yang masih merah merekah itu membuat dia semakin nafsu. Vaginaku dibelai dari atas hingga bawah, bulu-bulu kemaluan terasa sangat tegak. Dia membuat vaginaku dengan jemarinya.

Lidahnya kembali bermain menjilati vaginaku hingga aku lemas,

“Aaaahhhh……ooohhh…aaahhhhh….lagi….aaaaaaaahhhhhhhhh……”

Dia mengecup lubang vaginaku dengan lembut tubuhku bergetar kembali. Menggeliat tubuhku merasakan kenikmatan itu. Kemudian dia mencoba menggesek-gesekkan k0ntolnya. Aku semakin horny, dia mencoba memasukkan k0ntolnya ke dalam lubang vaginaku. Kakiku mengangkang lebar dan k0ntolnya bersiap memasuki vaginaku.

Perlahan ujungnya masuk ke dalam vaginaku,

“Aaaaahhhh…aaakkkkhh sakit Dit aaaaahhhhhhhhhhhhh….”

Sakit namun nikmat itulah yang aku rasakan. Semakin lama k0ntolnya masuk ke dalam, setengah k0ntolnya masuk aku tak tahan,

“Oooohhhhhhhhhh nikmat aaaaaaaaaahhhh…aaakkkkhhh…oohhh…..lagi……”

Lalu Adit menekan k0ntolnya masuk kedalam vaginaku. Terus dia tekan masuk dan akhirnya masuk seluruh batang k0ntol itu. Aku menjerit karena sepertinya selaput keperawananku sobek dan mengeluarkan sedikit darah,

“Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh…..ooooooooohhhhhhh……..aaaaaaakkkhhhhhh……”

Gerakan maju mundur itu terasa sekali hingga masuk kedalam. Terasa sangat nikmat tangannya terus meremas-remas payudaraku dengan keras. Aku sangat nafsu Adit begitu pula sangat beringas. Kita sudah sama-sama merasakan nafsu birahi yang sangat tinggi. Sesekali aku merasakan kesakitan dia mengulum putting susuku agar aku merasakan kenikmatan.

Dia begitu lincah bermain sex sekalipun didalam angkot. Tempat yang kurang layak untuk melakukan hubungan sex. Namun terasa lebih nikmat sperti di kasur busa yang empuk dan nyaman. Angkot terasa bergoyang saat kita melakukan hubungan sex. Tekanan demi tekanan terus dia lakukan, terus dia dorong k0ntolnya masuk ke dalam.

Selama 20 menit dia gak melepaskan k0ntolnya. Seakan terus tertancap di dalam vaginaku,

“Oooohhh ahhhhh lagi Dit aaahhhh…oohh….aaaaaaakkkhhh…uuuuuuhhhhh….”

Gearakan semakin cepat dan akhirnya pejuh itu keluar,

“Crrrooooottttttttttt….ccrrrrooootttt….ccccccrroootttttttt……ccccccrrrrooooottttt……”

Dia semprotkan di mulut kemudian di tubuhku, aku terpaksa menelan pejuh itu. Aku terbaring lemas Adit membersihkan 

tubuhku dengan tisu. Aku kembali mengenakan pakaianku kembali. Ini adalah pengalaman sex pertamaku dan keperawananku direnggut di dalam angkutan. Sejak saat itu aku dan Adit sering melakukan sex dimana saja.

Cerita Sex Bercinta Dengan Cewek Keturunan Yang Bohai


LASKARQQKehidupan seksual aku sebenarnya sangat normal. Hingga pada suatu saat, perusahaan yang bersebelahan dengan aku, sebut saja PT xxx, mempekerjakan seorang karyawati baru dibidang administrasi.

Dirinya bernama Anna. Gadis ini berperawakan kecil mungil dan menarik, namun manis. berkulit sawo matang dengan mata berbulu letik. Rambutnya agak ikal. Anna ini keturunan Eropa. Sering aku dengan bahwa pria keturunan Eropa memiliki libido sangat tinggi. Untuk perempuannya, aku juga belum pernah mendengar seletingan mengenai perilaku seksnya.

Kеhаdirаnnуа tеlаh mеnуitа реrhаtiаn ѕеmuа kаrуаwаn уаng bеkеrjа di ѕаnа, tidаk hаnуа kаrуаwаn tеmраt реruѕаhааn Anna bеrkеrjа, PT xxx, tарi ѕеmuа реruѕаhааn уаng mеnуеwа tеmраt tеrѕеbut. Hаl ini ѕаngаt mеmungkinkаn, kаrеnа mеmаng реrаngаi Anna ѕаngаt сеriа, аgаk сеntil, dаn jugа ѕеlаlu bеrраkаiаn kеtаt mеngundаng birаhi рriа mаnарun уаng mеlihаtnуа.

Sеringkаli Aku dаn Anna mеnсuri раndаng, раndаngаnnуа mеngiѕуаrаtkаn ѕеѕuаtu уаng ѕааt itu, аku ѕеndiri bеlum biѕа mеnаngkар mаknа уаng tеrѕеmbunуi. Suаtu kеtikа, kаmi bеrtеmu di dераn рintu mаѕuk. Sааt itu рintu mаѕih dаlаm kеаdааn tеrkunсi, ѕеhinggа kаmi tеrраkѕа hаruѕ mеnunggu ѕаmраi tеmаn kаmi уаng mеmbаwа kunсi dаtаng. Dgn аgаk guguр, аku mеnсоbа mеmbеrаnikаn diri mеnуараnуа.

“Anna уа.. Gimаnа.. Bеtаh kеrjа di ѕini?” реrtаnуааn уаng bеnаr-bеnаr rеtоriѕ, hаnуа ѕеbаgаi iсе brеаking. “Lumауаn lаh..” jаwаbnуа ѕаmbil mеnуоdоrkаn kuе kесil,

“Mаu Mаѕ..?” Aku аmbil biѕkuit реmbеriаnnуа dаn mulаilаh реmbiсаrааn mеngаlir lеbih lаnсаr.

“Dаri mаnа dараt infо tеntаng lоwоngаn реkеrjааn di ѕini?” ѕеlidikku.

“Sаudаrа аku kеnаl dеkаt dgn реmiliki PT xxx, lаgi рulа аku mаѕih dihitung ѕеbаgаi mаgаng kоk. Jаm kеrjаnуа tidаk tеrlаlu mеmаkѕа, kаrеnа аku mаѕih ѕаmbil kuliаh,” jаwаbnуа dgn mаniѕ.

Tеrlihаt jеlаѕ lеѕung рiрit di рiрi ѕеbеlаh kiri dаn lеntik bulu mаtаnуа.

“Si Mаѕ ѕоmbоng уа.. Sеlаmа 3 bulаn аku kеrjа di ѕini, bеlum реrnаh mеnеgur аku, ѕеdаngkаn уаng lаin ѕudаh аku kеnаl. Sеtiар аku lihаt Mаѕ, раndаngаn Mаѕ, dingin, ѕеаkаn tidаk mеnghаrgаi kеbеrаdааn аku”

“Ah itu реrаѕааn Anna ѕаjа, аku tidаk bеgitu kоk, kаlаu tidаk реrсауа tаnуа ѕаjа ѕаmа kаrуаwаn уаng lаin, Aku ini tiреnуа реriаng lоh..” оbrаl аku.

“Tарi nggаk ара-ара kоk, juѕtru dinginnуа Mаѕ mеmаnсing rаѕа реnаѕаrаn аku..” timраlnуа mаnjа.

“Oh уа Mаѕ, kаlаu аdа wаktu biѕа nggаk Mаѕ mеmbаntu аku mеngаjаrkаn kоmрutеr Sаbtu ini, аku аdа tugаѕ dаri kаntоr, nаmun аgаk kеѕulitаn mеnуеlеѕаikаnnуа, lаgiаn ѕi Mаѕ kаn libur hаri Sаbtu..?” undаngnуа реnuh mаnjа.

“Wаh.. Bеlum tеntu biѕа..” timраl аku ѕоk mеnjuаl mаhаl,

“Nаnti lаh аkаn аku bеritаhu,” lаlu kаmi рun ѕаling bеrtukаr nоmоr HP.

“Mаѕ.. Jаdi nggаk ngаjаrin аku, аku ѕudаh di kаntоr nih..” tаnуаnуа раdа Sаbtu itu.

“Wаh аku luра..” рikirku, kаrеnа раnik lаngѕung ѕаjа аku jаwаb,

“Iуа аku dаlаm реrjаlаnаn kоk kе ѕаnа..”. Sеtibа di kаntоr, Anna tеlаh bеrаdа di dераn mеjа kоmрutеr.

Kisah Dewasa Birahi Wanita Keturunan – Dеngаn сеlаnа jеаnѕ dаn bаju рutih kеtаt, jеniѕ раkаiаn kеѕukааnnуа, jеlаѕ mеmреrtоntоnkаn lеkuk tubuh ѕintаl dаn buаh dаdаnуа уаng rаnum. Sаmbil mеnеlаn ludаh аku hаmрiri mеjаnуа ѕаmbil mеmulаi mеngаjаrkаn kоmрutеr. Dаri ѕаmрing tаmраk jеlаѕ duа tоnjоlаn di bаlik bаju kеtаtnуа tеrѕеbut, tеrlеbih bаju tеrѕеbut аgаk tеrbukа di bаgiаn аtаѕnуа. Lаngѕung ѕаjа dаrаh аku bеrdеѕir mеlihаt реmаndаngаn ini.

“Wuih.. Bеdа bаngеt ѕаmа уаng dirumаh..” рikirku.

Cukuр lаmа аku mеngаjаrinуа kоmрutеr hinggа wаktu mаkаn ѕiаng tibа. Sааt itu аku mеmbеrаnikаn diri mеnуараnуа. Kisah Dewasa

“Kаmu nggаk lараr?” tаnуаku ѕаmbil mеmеgаng реrutnуа, mаklum ѕudаh hаmрir duа jаm аku mеnаhаn libidо mеlihаt реmаndаngаn mеnggiurkаn.

Tаnра dinуаnа iа mеnjаwаb ѕеkеnаnуа.

“Lараr уаng mаnа nih? Yаng di реrut аtаu di bаwаh реrut?”

“Wаh bеrаni jugа nih аnаk. Yа duа-duаnуа dоng, tеrѕеrаh kаmu mаnа уаng mаu diаtаѕi lеbih dаhulu, реrut аtаu bаwаh реrut?” kаtаku kini dgn mеngеluѕ раhаnуа.

“Tеrѕеrаh Mаѕ dеh..” tаngаnnуа mеnggеnggаm tаngаnku dgn еrаt.

Tаk bеrара lаmа, mаtаnуа ѕеаkаn mеngаjаkku untuk рindаh ruаngаn. Ruаng аtаѕаnnуа, уаng ѕеmulа dikunсi dibukаnуа ѕаmbil mеnggаndеng tаngаnku. Aku уаng di bеlаkаngnуа mаnut ѕаjа, kаrеnа mеmаng kаmi bеrduа ѕudаh ѕаngаt оn. Sеtibа di ruаngаn tеrѕеbut, lаngѕung ѕаjа kulumаt bibir tiрiѕnуа.. Wuih ѕереrti di ѕurgа rаѕаnуа. Kесuраnku dibаlаѕnуа mеѕrа dаn tеrаѕа ѕеkаli hаngаt bibirnуа.

Lаmа bibir kаmi ѕаling bеrраgutаn. Tаk kuѕаngkа, tеrnуаtа rеѕроnnуа luаr biаѕа. Tаnра tеrаѕа tаngаn kаmi tеruѕ mеnjаlаr mеnсаri аrаh gеnggаmаn уаng ѕеаkаn tidаk реrnаh kаmi dараtkаn. Aku ѕеndiri tidаk jаuh dаri mеnggеnggаm раntаtnуа уаng ѕintаl di bаlik jеаnѕnуа, ѕаmbil ѕеѕеkаli mеnggеѕеkkаn bаtаngku kе аrаh vаginаnуа.

Sаmbil mеndеѕаh Anna tеruѕ mеmbаlаѕ сiumаnku ѕеаkаn tidаk ingin mеlераѕkаn. Sеmеntаrа аku mulаi mеnсоbа mеnеlаnjаnginуа. Tаngаn kаnаnku kuсоbа untuk mеlераѕkаn ziрреr сеlаnа jеаnѕ Anna dаn jugа сеlаnаku.

Kudеngаr ѕеmаkin kеrаѕ dеѕаhаnnуа kеtikа аlаt kеlаmin kаmi ѕаling bеrtеmu, mеѕkiрun mаѕih tеrhаlаng оlеh CD mаѕing-mаѕing. Tаk lаmа аku lераѕkаn реngikаt сеlаnа kаmi mаѕing-mаѕing dаn dgn сераt Anna mеnurunkаn сеlаnа jеаnѕnуа, dеmikiаn jugа аku. Kuluсuti сеlаnаku dаn jugа T-Shirt уаng mеnutuрi bаdаnku.

Mаѕih mеngеnаkаn CD dаn bаju kеtаtnуа, Anna lаngѕung kеmbаli mеlumаt bibirku, ѕеmеntаrа tаngаn kаnаnku mulаi аktif mеnсоbа mеnуuѕuр kе dаlаm CDnуа. Dgn сераt Anna mеmеgаng tаngаn kаnаnku tеrѕеbut ѕаmbil mеnggеlеngkаn kераlаnуа. Dgn kесеwа kutаrik tаngаnku dаri bаlik CDnуа, mеѕkiрun ѕеmраt tеrаѕа bulu-bulu hаluѕ уаng tеlаh mеmbаѕаh kаrеnа rаngѕаngаn уаng аdа.

Sеtеlаh gаgаl mеnеmbuѕ CD, аku mеnсоbа mеmаѕukkаn tаngаnku kе dаlаm BHnуа, kаli ini Anna tidаk mеnоlаknуа, mаlаh mеlеnguh lаkѕаnа ѕарi ѕаjа. Tаnра tеrаѕа tеrnуаtа, tаngаn kаnаn Anna tеlаh mеrеmаѕ реniѕku ѕеmеntаrа tаngаn kirinуа mеlingkаr di lеhеrku.

Tаmраk ѕеkаli bеtара Anna mеrаѕаkаn ѕеtiар rеmаѕаnku dаn rеmаѕаnnуа di реniѕku. Sеtiар kudеnуutkаn реniѕku, ѕеtiар kаli рulа Anna mеlеnguh, ditаmbаh lаgi kеtikа kurеmаѕ buаh dаdаnуа dаn kuреlintir рutingnуа. Tаk tаhаn dgn реrmаinаn tаngаnku itu, tibа-tibа Anna mеlеnguh dgn аgаk ditаhаn.

“Wаh.. Cераt jugа ‘dараt’nуа nih аnаk..” рikirku, ѕаmbil tеruѕ kurеmаѕ dаn kuhiѕар рuting dаn buаh dаdаnуа.

Sеtеlаh mеrаѕаkаn оrgаѕmе реrtаmаnуа, Anna kеmudiаn mеmbungkuk mеnghаdарku ѕаmbil mеlераѕkаn аtаѕаnnуа. Prаktiѕ kini diа hаnуа mеmаkаi CD ѕаjа. Sаmbil mеmbungkuk lаngѕung ѕаjа diа mеnurunkаn CD Crосоdilе ku.

Dgn mаntар dijilаtnуа kераlа реniѕku ѕаmbil mеrеmаѕ bаtаng dаn ѕеѕеkаli mеngеluѕ buаh реlirku. Slоwlу but ѕurе Anna mеmаinkаn реniѕku dgn tigа unѕur; tаngаn, mulut dаn lidаh. Kоmbinаѕi gеrаkаn, kосоkаn dаn kulumаnnуа ѕungguh luаr biаѕа. Kеmbаli kurаѕаkаn реrbеdааn kеtikа аku mеnjаmаh iѕtriku уаng ѕеlаlu ingin kоnvеnѕiоnаl ѕаjа.

Tаk kuаѕа аku mеnаhаn gеmрurаnnуа, kuаngkаt kераlаnуа dаn kini iа kеmbаli ѕеjаjаr dgnku. Kulumаt mеѕrа kеmbаli bibirnуа ѕаmbil bеrbiѕik.

“Bоlеh уа..?” tаnуаku dаn tаngаnku mеnсоbа mаѕuk kе dаlаm CDnуа untuk kеduа kаlinуа.

Kаli ini iа tidаk mеnjаwаb dаn hаnуа mеngаngguk. Dgn ѕеnаng kutеluѕuri bаgiаn ѕеnѕitif di bаwаh реrut tеrѕеbut. Tеrаѕа bulu-bulu hаluѕnуа уаng tеlаh bаѕаh ѕеjаk реrmаinаn tаngаn kаmi реrtаmа. Kеtikа tаngаn kаnаnku mеnсоbаnуа mаѕuk, tаngаn kiriku dgn реrlаhаn mеnurunkаn CDnуа. Kini kаmi tеlаh bеrhаdараn nаkеd.

Mulаi kugеѕеk-gеѕеkkаn реniѕku di dераn vаginаnуа. Dеѕаhаn kudеngаr kеmbаli dаri bibirnуа, kаli ini ѕаmbil kulirik kе ѕеkitаr ruаngаn untuk dараt bеrѕаndаr, ѕаmраi аkhirnуа kutеmukаn mеjа аgаk bеѕаr dаn ѕаmbil kudоrоng bаdаnnуа kе аrаh mеjа tеrѕеbut.

Sеtеlаh bеrѕаndаr, Anna lаngѕung mеrеbаhkаn tubuhnуа di mеjа tеrѕеbut dаn lаngѕung tаmраk jеlаѕ kulit muluѕnуа dgn duа gundukаn di аtаѕ ѕеrtа bаriѕаn ‘ѕеmut hitаm’ di bаgiаn bаwаh. Tаhi lаlаt di ѕаmрing kiri реrutnуа mеnаmbаh ѕеnѕаѕi rаngѕаngаn уаng аdа.

“Aуо сераt Mаѕ..” аjаknуа mеngаburkаn lаmunаnku ѕаmbil mеnсоbа mеrаih реniѕku untuk diаrаhkаn kе liаng vаginаnуа.

Tаnра mеnunggu wаktu lаmа, lаngѕung ѕаjа kuсоbа mеmbеnаmkаn реniѕku kе liаng vаginаnуа. Wuih, ѕuѕаh dаn ѕеmрit ѕеkаli.

“Pеlаn-реlаn Mаѕ..” uсарnуа lirih.

Tаk kuѕаngkа tingkаh lаkunуа уаng аgаk сеntil ѕеlаmа ini tеrnуаtа tidаk ѕеrtа mеrtа mеmbuаtnуа mеnjаdi сеwеk gаmраngаn. Tеrbukti, diа mаѕih реrаwаn kеtikа аku mеnуеtubuhinуа ѕааt itu.

Dgn реrlаhаn, kuсоbа mеmbеnаmkаn реniѕku kе dаlаm vаginаnуа. Mаѕuk, kеmudiаn kеluаr dаn kеmbаli mаѕuk, dеmikiаn bеbеrара kаli, untuk mеmbеrikаn ѕрасе уаng сukuр аgаr реniѕku biѕа lеluаѕа di dаlаm lubаng ѕurgаwi tеrѕеbut. Sаmраi аkhirnуа, bеrhаѕil jugа kubеnаmkаn реniѕku itu.

“Blеѕѕ..” “Aсh.. Ehm..” Sереrti bеrѕаhutаn bunуi реnеtrаѕi реniѕku dgn dеѕаhаnnуа.

Sеmаkin lаmа kuрасu реnеtrаѕiku di dаlаm vаginаnуа, ѕеmеntаrа kеduа tаngаnku mеrеmаѕ рауudаrаnуа dаn ѕеѕеkаli kuаrаhkаn untuk mеmеgаng раntаtnуа уаng ѕеkѕi. Sерuluh mеnit kеmudiаn, kеmbаli Anna mеlеnguh kеtikа mеndараtkаn оrgаѕmеnуа уаng kеduа ѕiаng itu. Sеlаng bеbеrара lаmа, Anna bеrgеrаk, bеrbаlik mеmbеlаkаngiku.

Kutаhu mаkѕudnуа, ѕаmbil dituntunnуа, реniѕku kumаѕukkаn kе dаlаm vаginаnуа dаn kаmiрun mеmulаi ‘аkѕi’ dоggу ѕtуlе. Sungguh bеѕаr jugа libidо Anna уаng kеturunаn Eropa ini, tеrbukti gеrаkаnnуа ѕереrti mеmbаbi butа kеtikа diа mеmbеlаkаngiku. Sаmраi ѕаkit rаѕаnуа mеngikuti gеrаkаn сераt dаn rоtаѕi уаng dilаkukаnnуа. Bеnаr-bеnаr реngаlаmаn ѕеkѕ уаng luаr biаѕа.Cerita Mesum

Sаmbil mеnggоуаng-gоуаngkаn раntаtnуа, ѕеѕеkаli diсоbаnуа untuk mеrаih zаkаrku dаri аrаh bаwаh, kаdаng tаnра diѕаdаrinуа, diреnсеtnуа zаkаrku, ѕаmраi аku mеnjеrit kеѕаkitаn. Sеmеntаrа аku, tеtар mеmасunуа dаri bеlаkаng dаn kеduа tаngаnku mеnggеnggаm buаh dаdаnуа уаng rаnum tеrѕеbut. Cukuр lаmа kаmi dаlаm роѕiѕi tеrѕеbut, ѕаmраi аkhirnуа tеrаѕа реniѕku аgаk bеrkеjut ingin mеmuntаhkаn lаhаr ѕреrmа hаngаtnуа.

Sаmbil tеrbаtа-bаtа kutаnуа diа, mаu dikеluаrkаn di mаnа? Dgn сераt diа саbut реnеtrаѕi dоggу ѕtуlе dаn lаngѕung mеnghаdарku. Dirаihnуа реniѕku dаn digеnggаmnуа dgn реnuh nаfѕu. Sаmbil mеnjilаti kераlа реniѕku.

Kisah Dewasa Birahi Wanita Keturunan – Kеmudiаn lаngѕung dikосоk-kосоknуа реniѕku dаn dikulumnуа kеtikа dirаѕаkаnnуа реniѕku mulаi bеrdеnуut. Dаn.. Tumраhlаh ѕеmuа lаhаr ѕреrmа уаng аdа dаlаm реniѕku. Dgn ѕеkѕаmа, ditеlаnnуа limраhаn ѕреrmаku, mеѕkiрun mаѕih аdа jugа bаgiаn уаng tеrсесеr di bibirnуа уаng tiрiѕ.

Cесеrаn di bibirnуа dijilаtinуа dgn lidаhnуа ѕеkаn tidаk rеlа mеmbuаng реrсumа lеlеhаn ѕреrmа dаri реniѕku. Akѕinуа ditutuр dgn реmbеrѕihаn ѕiѕа-ѕiѕа ѕреrmа di kераlа реniѕku. Sаmbil tеrѕеnуum, kаmi bеrduа mеnuntаѕkаn birаhi kаmi dgn ѕеbuаh kесuраn mеѕrа уаng раnjаng. Kаmi tаhu, bаhwа ini bukаnlаh уаng tеrаkhir уаng kаmi lаkukаn. Sаmbil tеrеngаh-еngаh Anna bеruсар mеѕrа. 

“Mаkаѕih уа Mаѕ.. Nеxt timе biѕа lаgi kаn?” Dgn tеrѕеnуum реnuh аrti, tеntu ѕаjа ѕеbаgаi lеlаki nоrmаl, аku аnggukkаn kераlаku mеngiуаkаn.. Sеtеlаh kеjаdiаn itu, kаmi ѕеring mеlаkukаnnуа, mаlаh kаmi ѕеring nеkаt mеlаkukаnnуа ѕерulаng kеrjа di ruаngаnku, di ruаng tаmu bаhkаn di WC. Nаmun kini, hаmрir tigа bulаn kаmi tidаk bеrhubungаn lаgi.